Cara Menghitung Jumlah Scaffolding untuk Proyek Ruko

Sobat Konstruksi, menghitung kebutuhan scaffolding untuk proyek ruko tidak cukup hanya dengan melihat luas bangunan.

Ruko 2 lantai dengan fasad sederhana tentu berbeda kebutuhannya dengan ruko 3 lantai yang memiliki pekerjaan pengecatan seluruh fasad, kanopi, balkon, atau area belakang yang ikut dikerjakan.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Ruko ini luasnya berapa meter?”

Tetapi:

“Bagian mana yang harus dikerjakan dengan scaffolding, berapa panjang area kerjanya, dan berapa tingkat ketinggian yang dibutuhkan?”

Ibarat menghitung kebutuhan bata, kita tidak bisa hanya mengatakan luas bangunan 200 m² lalu langsung menentukan jumlah bata. Bentuk dinding, bukaan pintu, jendela, dan desain bangunan ikut mempengaruhi kebutuhan.

Hal yang sama berlaku pada scaffolding.

Artikel ini membahas cara menghitung kebutuhan scaffolding berdasarkan use case proyek ruko, sehingga Sobat Konstruksi dapat membuat estimasi awal sebelum meminta quotation kepada supplier.

Mengapa Kebutuhan Scaffolding Ruko Tidak Bisa Disamakan?

Ruko memang terlihat sederhana. Namun di lapangan, kebutuhan scaffolding dapat berbeda karena:

  • jumlah lantai,
  • panjang dan tinggi fasad,
  • jumlah sisi bangunan yang dikerjakan,
  • pekerjaan interior atau eksterior,
  • keberadaan balkon atau kanopi,
  • lebar area kerja,
  • akses kendaraan dan pekerja,
  • serta apakah scaffolding digunakan bersamaan di beberapa sisi.

Contohnya:

Ruko A:
2 lantai, hanya mengecat bagian depan.

Ruko B:
2 lantai, mengecat depan dan samping.

Ruko C:
3 lantai, pekerjaan fasad seluruh sisi.

Ketiganya sama-sama disebut “proyek ruko”.

Tetapi kebutuhan scaffoldingnya jelas tidak sama.

1. Tentukan Dulu Pekerjaan yang Membutuhkan Scaffolding

Ini adalah langkah pertama.

Jangan langsung menghitung berdasarkan luas tanah atau luas bangunan.

Tentukan terlebih dahulu pekerjaan apa yang dilakukan di ketinggian.

Misalnya:

Pekerjaan Fasad

  • pemasangan bata bagian luar,
  • plesteran,
  • acian,
  • pengecatan,
  • pemasangan ornamen,
  • pemasangan papan nama.

Pekerjaan Interior

  • plafon,
  • pengecatan dinding tinggi,
  • instalasi tertentu,
  • pekerjaan pada area void.

Pekerjaan Tambahan

  • kanopi,
  • balkon,
  • talang,
  • pekerjaan sisi belakang,
  • pekerjaan samping bangunan.

Semakin banyak area kerja yang membutuhkan akses dari scaffolding, semakin besar kebutuhan materialnya.

Jadi, luas bangunan bukan titik pertama perhitungan. Area kerja adalah titik pertama.

2. Tentukan Berapa Sisi Ruko yang Dikerjakan

Setelah pekerjaan ditentukan, lihat sisi bangunannya.

Misalnya sebuah ruko memiliki:

  • sisi depan: 6 meter,
  • sisi belakang: 6 meter,
  • sisi kiri: 12 meter,
  • sisi kanan: 12 meter.

Jika pekerjaan hanya dilakukan pada bagian depan, maka kebutuhan scaffolding tidak sama dengan ketika seluruh perimeter bangunan dikerjakan.

Contoh sederhana

Pekerjaan hanya fasad depan:

6 meter

Pekerjaan depan + satu sisi:

6 + 12 = 18 meter area kerja horizontal

Pekerjaan seluruh perimeter:

6 + 12 + 6 + 12 = 36 meter

Ini belum menjadi jumlah set scaffolding.

Namun angka tersebut menjadi dasar untuk menentukan berapa bentang scaffolding yang diperlukan.

3. Hitung Berdasarkan Bentang Scaffolding, Bukan Sekedar Luas

Di sinilah perhitungan mulai masuk ke kebutuhan material.

Untuk frame scaffolding, panjang area kerja perlu diterjemahkan menjadi beberapa bentang/bay sesuai konfigurasi produk yang digunakan.

Jangan menggunakan satu angka bentang sebagai aturan universal karena konfigurasi aktual dapat berbeda menurut sistem scaffolding dan produk yang digunakan.

Sebagai contoh sederhana untuk estimasi pengadaan, misalkan layout ruko membutuhkan 5 bentang kerja.

Maka yang perlu dihitung bukan:

“Luas fasad = sekian m², berarti sekian set.”

Tetapi:

“Ada 5 bentang kerja dan setiap bentang membutuhkan susunan frame sesuai ketinggian.”

Ini jauh lebih dekat dengan kondisi nyata di lapangan.

4. Hitung Berapa Tingkat Scaffolding yang Dibutuhkan

Setelah panjang area kerja diketahui, berikutnya adalah ketinggian.

Misalnya pekerjaan dilakukan pada ruko:

2 lantai dengan tinggi total pekerjaan sekitar 6 meter.

Jika menggunakan frame T170, secara matematis kasar:

6 ÷ 1,7 ≈ 3,53

Artinya, kebutuhan susunan vertikal tidak dapat dibulatkan begitu saja menjadi “3,53 frame”.

Dalam pengadaan, jumlahnya harus disesuaikan menjadi konfigurasi frame utuh dan memperhitungkan kebutuhan platform kerja, sambungan, akses, serta kondisi lapangan.

Untuk T190:

6 ÷ 1,9 ≈ 3,16

Kembali, angka tersebut adalah indikasi jumlah susunan vertikal, bukan otomatis jumlah set pembelian.

SKJ sendiri menjelaskan bahwa T170 memiliki tinggi main frame sekitar 1,7 meter, sedangkan T190 sekitar 1,9 meter. Perbedaan tersebut dapat memengaruhi jumlah susunan vertikal ketika mengejar ketinggian tertentu. 

Panduan Komparasi Produk

Perbedaan Scaffolding T-170 dan T-190

Pahami perbedaan ukuran, beban kerja, dan peruntukan spesifikasi proyek sebelum Anda membeli.

5. Bedakan “Frame” dengan “Set Scaffolding”

Ini bagian yang sering membuat perhitungan purchasing keliru.

Sobat Konstruksi mungkin menemukan istilah:

“Saya butuh 20 frame.”

Tetapi supplier dapat menggunakan satuan:

“20 set scaffolding.”

Keduanya bukan hal yang sama.

Pada konfigurasi 1 set baru yang dijelaskan SKJ, satu set dasar terdiri dari:

  • 2 Main Frame
  • 2 Cross Brace
  • 4 Join Pin
Panduan Komponen SKJ

Apa Itu Scaffolding 1 Set Baru?

Ketahui kelengkapan komponen standar 1 set mulai dari main frame, cross brace, hingga joint pin.

Namun konfigurasi dapat berubah sesuai jenis scaffolding dan kebutuhan proyek. Jadi sebelum membuat PO, pastikan satuan yang digunakan sudah jelas.

Jangan hanya tulis:

Scaffolding: 20

Lebih aman tulis:

Scaffolding T170: 20 set

Kemudian pastikan isi setiap set sesuai quotation supplier.

Kesalahan kecil pada satuan dapat menjadi besar ketika jumlah pembelian sudah puluhan atau ratusan set.

6. Contoh Studi Kasus Ruko 2 Lantai

Sekarang kita gunakan contoh yang lebih dekat dengan kondisi proyek.

Data proyek

Misalnya:

  • Lebar ruko: 6 meter
  • Panjang: 12 meter
  • Jumlah lantai: 2 lantai
  • Pekerjaan: plester, aci, dan cat fasad
  • Area pekerjaan: depan + satu sisi
  • Tinggi pekerjaan: sekitar 6 meter

Maka area horizontal yang perlu dilayani scaffolding:

6 + 12 = 18 meter

Misalkan berdasarkan layout produk yang digunakan, area tersebut dibagi menjadi 6 bentang kerja.

Kemudian ketinggiannya membutuhkan 4 susun frame.

Maka estimasi awal kebutuhan struktur dapat dipikirkan sebagai:

6 bentang × 4 susun

Tetapi sekali lagi, angka ini belum boleh langsung dianggap sebagai jumlah set yang harus dibeli.

Mengapa?

Karena kita masih perlu memperhitungkan:

  • posisi frame ujung,
  • sambungan vertikal,
  • cross brace,
  • platform,
  • akses,
  • jack base,
  • kebutuhan pengamanan,
  • area yang tidak dapat dipasangi frame,
  • dan konfigurasi aktual bangunan.

Inilah perbedaan antara estimasi kasar dan quantity take-off yang siap dijadikan dasar pengadaan.

7. Bagaimana Kalau Hanya Fasad Depan Ruko?

Ini adalah use case yang sangat umum.

Misalnya ruko hanya membutuhkan scaffolding untuk:

  • pengecatan fasad,
  • pemasangan papan nama,
  • pekerjaan balkon,
  • atau finishing bagian depan.

Dalam kondisi tersebut, tidak masuk akal menghitung seluruh perimeter bangunan.

Fokuskan perhitungan pada:

panjang fasad × jumlah susunan vertikal × konfigurasi bentang.

Contohnya:

Fasad = 6 meter.

Jika layout dibagi menjadi beberapa bentang, maka kebutuhan scaffolding mengikuti jumlah bentang tersebut, bukan luas seluruh bangunan.

Prinsipnya:

Pekerjaan hanya di depan → hitung area kerja depan.

Bukan:

Luas bangunan × faktor scaffolding.

Cara ini membuat estimasi lebih relevan dengan pekerjaan sebenarnya.

8. Bagaimana Kalau Ruko Berdempetan?

Ini kasus yang sering terjadi pada proyek ruko.

Bayangkan 10 unit ruko berdiri berjajar.

Tidak semua sisi dapat dipasang scaffolding karena beberapa sisi saling berdempetan dengan bangunan lain.

Misalnya:

Ruko tunggal:
Depan + belakang + kiri + kanan.

Deretan ruko:
Depan + belakang, sementara sisi kiri dan kanan berbatasan dengan unit lain.

Maka kebutuhan scaffolding bisa berbeda cukup jauh.

Karena itu, untuk proyek ruko yang berdempetan, jangan menghitung berdasarkan keliling bangunan secara otomatis.

Tanyakan:

Sisi mana yang benar-benar membutuhkan akses kerja?

Ini juga alasan mengapa denah atau sketsa sederhana sangat membantu supplier ketika membuat estimasi kebutuhan.

9. Bagaimana Kalau Ruko 3 Lantai?

Untuk ruko 3 lantai, faktor ketinggian menjadi semakin penting.

Misalnya pekerjaan mencapai sekitar 9 meter.

Jika menggunakan T170:

9 ÷ 1,7 ≈ 5,29

Sedangkan dengan T190:

9 ÷ 1,9 ≈ 4,74

Secara matematis, keduanya menunjukkan kebutuhan susunan vertikal yang berbeda.

Namun jangan menyimpulkan:

“Berarti T190 pasti lebih murah.”

Belum tentu.

Pemilihan frame harus mempertimbangkan layout, kebutuhan akses, pekerjaan, konfigurasi sistem, dan persyaratan keselamatan.

SKJ menjelaskan T170 sebagai pilihan yang umum untuk proyek seperti ruko 2–3 lantai, sementara T190 memberikan tinggi frame yang lebih besar.

Untuk keputusan final, supplier sebaiknya mendapatkan gambaran pekerjaan yang akan dilakukan.

Panduan Estimasi Purchasing

Rumus Praktis untuk Estimasi Awal

Untuk membantu tim purchasing membuat estimasi awal pengadaan scaffolding, gunakan alur logika praktis berikut:
Tahap 1 Tentukan Panjang Area Kerja

Total panjang sisi bangunan yang benar-benar dikerjakan.

Panjang Area Kerja = Total Sisi Dikerjakan
Tahap 2 Tentukan Jumlah Bentang

Kemudian dibulatkan mengikuti konfigurasi frame yang tersedia.

Jumlah Bentang = Panjang Area Kerja ÷ Panjang Bentang Frame
Tahap 3 Tentukan Jumlah Susunan Vertikal

Sesuaikan menjadi susunan frame utuh ke atas.

Jumlah Susunan = Tinggi Pekerjaan ÷ Tinggi Frame
Tahap 4 Tentukan Jumlah Frame

Jumlah frame mengikuti jumlah bentang, posisi ujung, jumlah susunan, dan konfigurasi sistem.

Tahap 5 Konversikan ke Set

Maka jumlah frame dan komponen dapat dikonversikan ke kebutuhan set setelah layout ditentukan.

Standard Konfigurasi Set SKJ:
1 Set = 2 Main Frame + 2 Cross Brace + 4 Join Pin
Catatan penting: Rumus di atas adalah estimasi pengadaan awal, bukan pengganti desain atau pemeriksaan teknis kebutuhan scaffolding di lapangan.
📐 Contoh Simulasi Sederhana
Spesifikasi Ruko: 6 × 12 meter (2 lantai)
Area Pekerjaan: Fasad Depan + Sisi Kanan
Area Horizontal: 6m + 12m = 18 meter
Hasil Layout Contoh: 6 Bentang & 4 Susun Frame
Kebutuhan Skala Konfigurasi Awal:
6 bentang × 4 susun = 24 posisi bentang-tingkat
Dari skala posisi ini, baru ditentukan rincian quantity:
  • Berapa Main Frame & Cross Brace
  • Berapa Join Pin & Catwalk
  • Berapa Jack Base & Akses Naik
  • Komponen pengamanan & klem pendukung lainnya

10. Jangan Lupakan Area yang Tidak Bisa Dipasang Scaffolding

Bangunan ruko hampir selalu memiliki bukaan atau area khusus.

Contohnya:

  • pintu toko,
  • rolling door,
  • jendela besar,
  • balkon,
  • kanopi,
  • akses kendaraan,
  • tangga,
  • saluran utilitas.

Area tersebut dapat memengaruhi konfigurasi scaffolding. Misalnya bagian depan ruko memiliki rolling door selebar 4 meter.

Jangan otomatis menganggap seluruh fasad dapat dipasang frame secara lurus. Konfigurasi harus menyesuaikan kondisi aktual.

Dalam penelitian mengenai keselamatan scaffolding, kesalahan struktural sederhana, komponen yang tidak tepat, dan modifikasi struktur tanpa kontrol termasuk faktor yang ditemukan dalam analisis kecelakaan. 

Jadi, jangan memaksakan konfigurasi hanya agar hitungan jumlah set terlihat pas.

11. Hitung Akses Kerja, Bukan Hanya Struktur

Scaffolding bukan hanya kumpulan frame.

Pekerja harus bisa naik, bekerja, dan berpindah dengan aman.

Karena itu, kebutuhan dapat mencakup komponen tambahan seperti:

  • catwalk/platform,
  • ladder,
  • jack base,
  • U-head,
  • roda untuk konfigurasi tertentu,
  • guardrail,
  • dan komponen pendukung lainnya sesuai kebutuhan.

OSHA menekankan bahwa akses ke scaffold perlu disediakan dengan cara yang aman, dan komponen scaffold tidak boleh digunakan melebihi kapasitas yang ditentukan.

Artinya, saat membuat perhitungan pengadaan, jangan hanya bertanya:

“Berapa frame yang saya butuhkan?”

Tanyakan juga:

“Apa saja komponen yang dibutuhkan agar sistem tersebut dapat digunakan sesuai pekerjaan?”

Studi Kasus SKJ

Contoh Perbandingan 3 Use Case Ruko

Agar lebih mudah dipahami, mari bandingkan tiga proyek ruko dengan karakteristik yang berbeda:
Kondisi Ruko Area Kerja Ketinggian Karakter Kebutuhan
Ruko A Fasad depan 2 lantai Relatif sederhana
Ruko B Depan + samping 2 lantai Lebih banyak bentang
Ruko C Beberapa sisi 3 lantai Lebih banyak susunan vertikal
Ruko A
Area Kerja: Fasad depan
Ketinggian: 2 lantai
Karakter Kebutuhan: Relatif sederhana
Ruko B
Area Kerja: Depan + samping
Ketinggian: 2 lantai
Karakter Kebutuhan: Lebih banyak bentang
Ruko C
Area Kerja: Beberapa sisi
Ketinggian: 3 lantai
Karakter Kebutuhan: Lebih banyak susunan vertikal

Ketiganya sama-sama disebut proyek ruko. Namun kebutuhan scaffolding-nya berbeda.

Inilah alasan tidak ada angka universal seperti “1 ruko = 20 set scaffolding”. Jumlah set harus mengikuti layout dan pekerjaan.

Peringatan Technical & Procurement

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung Scaffolding Ruko

Hindari 7 kesalahan umum berikut agar perhitungan kebutuhan scaffolding lebih akurat dan pekerjaan di lapangan berjalan aman:
Kesalahan 01
Menggunakan luas lantai sebagai patokan utama

Luas lantai tidak otomatis menunjukkan panjang area kerja yang sebenarnya.

Kesalahan 02
Menganggap satu ruko selalu membutuhkan jumlah yang sama

Kebutuhan ruko 2 lantai dan 3 lantai jelas berbeda secara signifikan.

Kesalahan 03
Tidak menghitung sisi pekerjaan

Pekerjaan di fasad depan saja memiliki kebutuhan material yang berbeda jauh dibanding seluruh perimeter ruko.

Kesalahan 04
Mengabaikan akses dan bukaan

Keberadaan rolling door, balkon, serta akses kendaraan dapat mengubah layout pemasangan scaffolding.

Kesalahan 05
Menyamakan frame dengan set

Kekeliruan memahami perbedaan antara pcs main frame dan unit set dapat membuat quantity procurement salah total.

Kesalahan 06
Membeli berdasarkan perkiraan terlalu mepet

Kekurangan satu atau dua komponen dapat menghambat seluruh progres pekerjaan ketika material sudah dibutuhkan di lapangan.

Kesalahan 07
Mengabaikan kondisi struktur & kapasitas beban

Scaffolding harus selalu digunakan sesuai konfigurasi dan kapasitas yang ditetapkan.

Standar Keselamatan OSHA: OSHA secara eksplisit menyatakan bahwa scaffold dan komponennya tidak boleh dibebani melebihi maximum intended load atau rated capacity, mana yang lebih rendah.

Bagaimana Memilih T170 atau T190 untuk Ruko?

Untuk proyek ruko, pemilihan T170 atau T190 sebaiknya tidak hanya berdasarkan “mana yang lebih tinggi”.

SKJ menjelaskan bahwa T170 memiliki tinggi sekitar 1,7 meter dan T190 sekitar 1,9 meter. Perbedaan tinggi tersebut dapat memengaruhi jumlah susunan vertikal dan ruang kerja yang tersedia. 

Secara sederhana:

T170
Cocok dipertimbangkan untuk pekerjaan ruko dan konstruksi dengan kebutuhan frame standar.

T190
Dapat dipertimbangkan ketika tambahan tinggi frame membantu konfigurasi pekerjaan.

Tetapi keputusan akhir tetap perlu melihat kondisi proyek.

Ibarat memilih tangga, tangga yang lebih panjang tidak otomatis menjadi pilihan terbaik. Yang penting adalah sesuai dengan tinggi dan kondisi pekerjaan.

Untuk kebutuhan scaffolding baru K1 dan komponennya, Anda dapat melihat pilihan produk SKJ atau menghubungi tim untuk mendapatkan penawaran sesuai kebutuhan proyek.

Jangan hanya bertanya “butuh berapa set?”

Mulailah dengan:

“Bagian mana yang akan dikerjakan, berapa tingginya, dan bagaimana layout scaffolding-nya?”

Dari sanalah jumlah set yang lebih masuk akal dapat ditentukan.

Layanan Konsultasi SKJ

Masih Bingung Menghitung Kebutuhan Scaffolding Proyek Anda?

Hindari salah beli atau kelebihan material. Dapatkan simulasi layout & hitungan quantity scaffolding yang tepat dan presisi langsung dari tim ahli SKJ Scaffolding.

Konsultasi via WhatsApp ⚡ Respon Cepat & Free Konsultasi

Sumber Referensi 

  1. OSHA 29 CFR 1926.451 — kapasitas scaffolding, inspeksi, dan persyaratan penggunaan.
  2. OSHA eTool – Scaffolding — inspeksi, akses, bracing, dan persyaratan keselamatan frame scaffold. 
  3. Halperin & McCann (2004), Journal of Safety Research, An evaluation of scaffold safety at construction sites, DOI 10.1016/j.jsr.2003.11.004. Studi mengevaluasi 113 scaffolds dan menemukan masalah struktural serta kekurangan komponen pada sebagian scaffold yang diamati. 
  4. Whitaker et al. (2003), Journal of Safety Research, Safety with access scaffolds: Development of a prototype decision aid based on accident analysis, DOI 10.1016/S0022-4375(03)00025-2. Penelitian ini mengidentifikasi komponen cacat, modifikasi struktur yang tidak tepat, dan kesalahan struktural sebagai faktor yang perlu diperhatikan dalam keselamatan scaffolding. 
Share the Post: