Beli Scaffolding untuk Stok Rental 20, 50 atau 100 Set?

Sobat Konstruksi, ketika mulai membangun usaha rental scaffolding, ada satu keputusan yang terlihat sederhana tetapi cukup menentukan:

Lebih baik mulai dengan 20, 50, atau langsung 100 set?

Jawabannya bukan sekadar “semakin banyak semakin untung.”

Dalam bisnis rental, scaffolding yang tersimpan di gudang belum menghasilkan uang. Unit baru menjadi produktif ketika berhasil masuk proyek dan menghasilkan pendapatan sewa.

Ibarat kontraktor membeli alat kerja, jumlah alat harus mengikuti volume pekerjaan. Terlalu sedikit membuat kesempatan proyek terlewat. Terlalu banyak membuat modal tertahan sebagai stok.

Karena itu, sebelum membeli scaffolding untuk stok rental, Sobat Konstruksi perlu melihat empat hal:

modal → kapasitas → risiko stok → potensi utilization.

 Mana yang Lebih Tepat 20, 50, atau 100 Set?

Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat seperti ini:

Faktor20 Set50 Set100 Set
Modal awalRendahMenengahTinggi
Kapasitas rentalTerbatasCukup fleksibelBesar
Risiko stok menganggurRendahMenengahLebih tinggi
Cocok untukPemula / uji pasarRental berkembangRental dengan pipeline kuat
Potensi melayani proyek besarTerbatasCukupLebih besar
Kebutuhan gudangKecilMenengahLebih besar
Kebutuhan modal kerjaRendahMenengahTinggi
Fleksibilitas ekspansiTinggiTinggiLebih rendah jika modal terkunci

Kesimpulan awalnya:

  • 20 set cocok jika Sobat Konstruksi masih menguji pasar.
  • 50 set cocok jika sudah memiliki jaringan kontraktor dan mulai mendapatkan permintaan berulang.
  • 100 set lebih masuk akal jika sudah ada pipeline proyek atau calon penyewa yang cukup jelas.

Jadi, jangan bertanya:

“Mana yang paling besar?”

Tetapi:

“Berapa jumlah unit yang realistis bisa bekerja?”

1. Mulai dari Harga Beli, Bukan Jumlah Set

Langkah pertama adalah menghitung kebutuhan modal.

Sebagai contoh simulasi, kita gunakan harga:

Rp460.000 per set

Angka ini hanya digunakan sebagai contoh perhitungan. Harga aktual dapat berubah berdasarkan spesifikasi, jumlah pembelian, stok, dan hasil quotation.

Dengan asumsi tersebut:

JumlahSimulasi Modal
20 setRp9.200.000
50 setRp23.000.000
100 setRp46.000.000

Terlihat sederhana.

Tetapi angka modal tersebut belum tentu merupakan total investasi bisnis rental.

Masih ada kemungkinan biaya:

  • gudang;
  • transportasi;
  • bongkar-muat;
  • maintenance;
  • penggantian komponen;
  • administrasi;
  • pemasaran;
  • modal kerja;
  • dan biaya operasional lainnya.

Jadi, harga beli scaffolding adalah titik awal perhitungan, bukan keseluruhan business plan.

2. Mengapa 20 Set Bisa Lebih Tepat untuk Pemula?

Bayangkan Sobat Konstruksi baru membuka usaha rental.

Belum memiliki banyak pelanggan tetap.

Kemudian tersedia modal Rp50 juta.

Apakah seluruh modal tersebut sebaiknya langsung digunakan membeli 100 set?

Belum tentu.

Dengan 20 set, modal pembelian dalam simulasi hanya sekitar:

20 × Rp460.000 = Rp9.200.000

Artinya masih terdapat ruang modal untuk:

  • promosi;
  • biaya operasional;
  • transportasi;
  • perawatan;
  • dan menambah stok ketika permintaan mulai terbukti.

Ini merupakan strategi uji pasar.

Misalnya 20 set ternyata hampir selalu tersewa, berarti pasar mulai memberikan sinyal.

Barulah Sobat Konstruksi dapat mempertimbangkan:

20 → 50 → 100 set

secara bertahap.

Strategi tersebut mirip dengan kontraktor yang tidak langsung membeli seluruh alat berat untuk satu proyek sebelum mengetahui kesinambungan pekerjaan.

3. Kapan 50 Set Mulai Menarik?

50 set berada di tengah.

Modal lebih besar daripada 20 set, tetapi kapasitas rental juga jauh lebih luas.

Dengan asumsi harga Rp460.000:

50 × Rp460.000 = Rp23.000.000

Jumlah tersebut mulai menarik apabila Sobat Konstruksi sudah memiliki:

  • beberapa calon pelanggan;
  • jaringan kontraktor lokal;
  • proyek ruko atau renovasi;
  • pelanggan yang berpotensi repeat order;
  • atau kebutuhan rental yang muncul secara rutin.

Misalnya terdapat dua proyek yang masing-masing membutuhkan sekitar 20–25 set.

Dengan 50 set, Sobat Konstruksi dapat melayani kedua proyek sekaligus dengan lebih fleksibel.

Di sinilah 50 set dapat menjadi titik tengah antara risiko dan kapasitas.

4. Kapan 100 Set Masuk Akal?

100 set terlihat menarik karena kapasitas rental jauh lebih besar.

Dengan simulasi yang sama:

100 × Rp460.000 = Rp46.000.000

Tetapi justru karena modalnya besar, pertanyaan yang harus dijawab juga lebih serius:

“Apakah 100 set tersebut akan cukup sering tersewa?”

Jika 100 set langsung tersewa, tentu kapasitas pendapatan lebih besar.

Tetapi bagaimana jika hanya 30 set yang tersewa?

Maka:

70 set masih berada di gudang.

Modalnya sudah keluar, tetapi aset tersebut belum menghasilkan pendapatan rental.

Inilah yang disebut idle inventory.

Dalam bisnis rental, idle inventory merupakan hal yang harus diperhatikan karena investasi aset membutuhkan waktu untuk kembali melalui arus kas rental.

5. Gunakan Utilization, Bukan Hanya Jumlah Unit

Salah satu cara paling sederhana untuk membandingkan 20, 50, dan 100 set adalah menggunakan utilization rate.

Rumus sederhananya:

Utilization = Unit yang tersewa ÷ Total unit × 100%

Misalnya:

100 set tersedia.

Yang sedang disewa:

60 set.

Maka:

60 ÷ 100 × 100% = 60% utilization

Artinya, 60% inventory sedang menghasilkan pendapatan.

Sedangkan 40% lainnya belum menghasilkan pendapatan rental pada periode tersebut.

Konsep ini sangat penting.

Sebab memiliki:

100 set dengan utilization 40%

belum tentu lebih menarik daripada:

50 set dengan utilization 80%.

Secara sederhana:

100 × 40% = 40 set aktif

sedangkan:

50 × 80% = 40 set aktif

Jumlah unit yang benar-benar bekerja sama.

Tetapi modal yang tertanam berbeda jauh.

6. Simulasi 20 vs 50 vs 100 Set

Sekarang kita gunakan contoh tarif rental:

Rp35.000/set/bulan

Tarif ini digunakan hanya untuk simulasi; halaman SKJ saat ini mencantumkan estimasi sewa scaffolding main frame set sebesar Rp35.000/set/bulan dan menyebutkan bahwa tarif dapat dinegosiasikan berdasarkan proyek/volume. 

Kita gunakan utilization 60%.

20 Set

Unit tersewa:

20 × 60% = 12 set

Pendapatan:

12 × Rp35.000 = Rp420.000/bulan

50 Set

Unit tersewa:

50 × 60% = 30 set

Pendapatan:

30 × Rp35.000 = Rp1.050.000/bulan

100 Set

Unit tersewa:

100 × 60% = 60 set

Pendapatan:

60 × Rp35.000 = Rp2.100.000/bulan

Tabelnya:

20 Set50 Set100 Set
Modal simulasiRp9,2 jtRp23 jtRp46 jt
Utilization60%60%60%
Unit aktif123060
Tarif/bulanRp35 rbRp35 rbRp35 rb
Pendapatan/bulanRp420 rbRp1,05 jtRp2,1 jt

Secara nominal, 100 set memang menghasilkan potensi pendapatan lebih besar.

Tetapi modalnya juga dua kali lipat dibanding 50 set dan lima kali lipat dibanding 20 set.

7. Bagaimana Jika Utilization Hanya 30%?

Sekarang kita buat skenario yang lebih konservatif.

Misalnya hanya 30% unit yang tersewa.

20 Set50 Set100 Set
Total unit2050100
Utilization30%30%30%
Unit tersewa61530
Pendapatan/bulanRp210 rbRp525 rbRp1,05 jt

Perhatikan.

100 set memang menghasilkan pendapatan dua kali lipat dibanding 50 set.

Namun 70 set dari inventory 100 set tetap belum menghasilkan pendapatan.

Jika kondisi tersebut berlangsung lama, modal yang tertahan semakin besar.

Itulah mengapa calon pemilik rental perlu memperhitungkan skenario pasar sepi, bukan hanya skenario semua unit tersewa.

8. Bagaimana Jika Utilization Mencapai 80%?

Sekarang kita lihat kondisi yang lebih baik.

20 Set50 Set100 Set
Total unit2050100
Utilization80%80%80%
Unit tersewa164080
Pendapatan/bulanRp560 rbRp1,4 jtRp2,8 jt

Pada utilization 80%, membeli lebih banyak unit mulai memiliki logika yang lebih kuat.

Karena sebagian besar inventory benar-benar bekerja.

Ini inti keputusan 20, 50, atau 100 set.

Bukan jumlahnya.

Melainkan:

Seberapa besar jumlah unit yang mampu diserap pasar?

9. Jangan Menggunakan Asumsi “Semua Unit Pasti Tersewa”

Ini salah satu jebakan paling umum dalam membuat proyeksi rental.

Misalnya:

100 set × Rp35.000

= Rp3.500.000/bulan.

Kemudian:

Rp46.000.000 ÷ Rp3.500.000

≈ 13 bulan.

Di atas kertas terlihat sangat menarik.

Tetapi angka tersebut mengasumsikan 100% utilization, padahal bisnis rental tidak selalu berada dalam kondisi penuh.

Belum lagi ada:

  • maintenance;
  • unit rusak;
  • unit terlambat kembali;
  • pelanggan belum membayar;
  • waktu kosong antarproyek;
  • biaya transportasi;
  • biaya gudang;
  • dan biaya operasional.

Karena itu, angka tersebut hanya cocok sebagai skenario maksimum, bukan dasar utama keputusan investasi.

Penelitian mengenai investasi rental alat berat juga menunjukkan pentingnya analisis sensitivitas karena perubahan pendapatan dan biaya dapat mengubah hasil kelayakan investasi secara signifikan.

Panduan Keuangan SKJ

Cara Menghitung BEP Usaha Rental Scaffolding Lengkap

Pahami rumus perhitungan titik impas, estimasi masa balik modal, serta faktor tingkat pemakaian (utilization rate) untuk memastikan bisnis rental scaffolding Anda tetap profit.

  • 🧮 Rumus BEP Rental
  • 📊 Simulasi Utilization Rate
  • 💡 Estimasi Balik Modal

10. 20, 50, atau 100 Set Berdasarkan Tahap Bisnis

Daripada menentukan jumlah berdasarkan keinginan, gunakan tahap bisnis.

Tahap 1 — Baru Mulai

20 set

Cocok jika:

  • belum memiliki pelanggan tetap;
  • ingin menguji pasar;
  • modal masih terbatas;
  • belum memiliki gudang besar;
  • ingin belajar mengelola aset rental.

Fokus:

mencari pelanggan dan membuktikan utilization.

Tahap 2 — Mulai Berkembang

50 set

Cocok jika:

  • sudah memiliki beberapa pelanggan;
  • mulai mendapatkan repeat order;
  • proyek mulai datang bersamaan;
  • 20 set sering habis tersewa;
  • memiliki modal untuk ekspansi.

Fokus:

meningkatkan kapasitas tanpa terlalu agresif menahan modal.

Tahap 3 — Rental dengan Pipeline Kuat

100 set

Cocok jika:

  • sudah memiliki jaringan kontraktor;
  • terdapat beberapa proyek aktif;
  • permintaan rental relatif konsisten;
  • ada pelanggan yang membutuhkan quantity besar;
  • gudang dan sistem logistik sudah siap;
  • modal kerja mencukupi.

Fokus:

scale-up kapasitas dan meningkatkan revenue.

11. Jangan Lupa Komponen Pendukung

Sobat Konstruksi, membeli 100 set scaffolding tidak berarti kebutuhan rental otomatis selesai.

Satu set dasar scaffolding yang umum digunakan SKJ terdiri dari:

  • 2 Main Frame;
  • 2 Cross Brace;
  • 4 Join Pin.

Namun konfigurasi proyek dapat membutuhkan komponen tambahan. 

Misalnya:

  • Jack Base;
  • Catwalk;
  • Tangga;
  • U-Head;
  • Roda;
  • Clamp;
  • dan komponen lainnya.
Katalog Resmi SKJ

Eksplorasi Produk Scaffolding & Aksesori Lengkap SKJ

Temukan berbagai pilihan main frame, cross brace, pipe support, hingga aksesori scaffolding standar konstruksi dengan ketersediaan stok siap kirim untuk proyek Anda.

  • 🏗️ Main Frame & Joint Pipe
  • ⚙️ Pipe Support & Jack Base
  • 📜 Standar Kualitas Tinggi

Artinya, jika Sobat Konstruksi membeli:

100 set scaffolding

jangan hanya menghitung:

100 × harga set.

Pertimbangkan juga rasio komponen pendukung terhadap pola rental.

Misalnya rental tertentu lebih banyak membutuhkan jack base atau catwalk, maka stok komponen tersebut juga perlu disesuaikan.

Ibarat kendaraan proyek: membeli armadanya saja belum cukup jika perlengkapan operasionalnya tidak tersedia.

12. Kualitas Juga Mempengaruhi Keputusan Stok

Untuk bisnis rental, scaffolding bukan hanya barang yang dibeli lalu dijual kembali.

Ia merupakan aset produktif yang berulang kali keluar-masuk proyek.

Karena itu, kualitas awal perlu menjadi bagian dari perhitungan.

Jika membeli material dengan harga lebih rendah tetapi membutuhkan maintenance lebih sering, biaya kepemilikan bisa meningkat.

Sebaliknya, investasi pada material yang lebih baik dapat membantu menjaga kondisi inventory selama siklus penggunaannya—meskipun tetap harus dilakukan inspeksi dan maintenance sesuai kondisi lapangan.

Penelitian tentang keselamatan scaffolding menunjukkan bahwa inspeksi merupakan bagian penting dalam menjaga kondisi scaffolding, sementara riset terbaru juga mengeksplorasi otomatisasi pemeriksaan kondisi scaffolding. 

Jadi untuk bisnis rental:

harga beli → kondisi aset → maintenance → utilization → pendapatan

merupakan satu rantai.

Panduan Manajemen Aset SKJ

Bagaimana Menentukan Pilihan yang Paling Aman?

Gunakan aturan sederhana di bawah ini untuk menyesuaikan pembelian unit dengan skala modal & permintaan pasar.

Pilih 20 Set

“Saya ingin menguji pasar terlebih dahulu.”

Risiko modal jauh lebih rendah untuk tahap pemula.

Pilih 50 Set

“Saya sudah punya pasar & ingin meningkatkan kapasitas.”

Titik tengah yang ideal & paling rasional.

Pilih 100 Set

“Saya sudah punya pipeline rental yang cukup kuat.”

Cocok jika daya serap pasar terbukti tinggi.

Studi Kasus Sederhana: Simulasi Modal Rp25.000.000
Pilihan A — 20 Set
Modal Aset: ±Rp9,2 Juta
Sisa modal aman digunakan untuk operasional, pengiriman, & pemasaran.
Pilihan B — 50 Set
Modal Aset: ±Rp23 Juta
Hampir seluruh modal habis untuk inventory, berisiko mengganggu cash flow.
Pilihan C — 100 Set
Modal Aset: ±Rp46 Juta
Tidak memungkinkan untuk modal Rp25 juta tanpa tambahan dana.
💡 Catatan Penting: Jumlah inventory harus mengikuti struktur modal. Bisnis rental tidak hanya membutuhkan asset, tetapi juga ketersediaan cash flow.
Kalau Sudah Punya Calon Penyewa, Perhitungannya Berubah!

Misalkan Sobat Konstruksi sudah memegang kepastian pipeline kebutuhan proyek:

Kontraktor A: 20 Set Kontraktor B: 15 Set Kontraktor C: 10 Set Total Demand: 45 Set

Dalam kondisi ini, pembelian 50 set menjadi sangat rasional karena keputusan tidak lagi berdasarkan asumsi semata.

Permintaan Nyata Utilization Tinggi Tambahan Inventory

Sobat Konstruksi, membeli scaffolding untuk stok rental bukan perlombaan siapa yang memiliki inventory paling banyak.

Inventory yang banyak tetapi menganggur hanya membuat modal tidur.

Sebaliknya, inventory yang lebih kecil tetapi terus berpindah dari gudang ke proyek dapat menghasilkan perputaran modal yang lebih sehat.

Karena itu, gunakan urutan berikut sebelum melakukan pembelian:

Hitung modal → prediksi utilization → hitung pendapatan → masukkan maintenance → cek BEP → baru tentukan jumlah set.

Jika baru mulai:

20 set bisa cukup untuk menguji pasar.

Jika pasar mulai terbukti:

50 set dapat menjadi tahap ekspansi.

Jika pipeline sudah kuat:

100 set dapat dipertimbangkan sebagai scale-up.

Dan satu hal yang tidak kalah penting,

Jangan membeli 100 set hanya karena harga grosir terlihat lebih murah per set. Pastikan pasar Anda mampu membuat 100 set tersebut bekerja.

Karena dalam bisnis rental scaffolding, aset yang menghasilkan bukan aset yang paling banyak melainkan aset yang paling produktif.

Konsultasi Proyek Langsung

Butuh Penawaran Harga atau Konsultasi Sewa Scaffolding?

Tim spesialis SKJ Scaffolding siap membantu perhitungan kebutuhan set, estimasi biaya sewa, hingga ketersediaan stok unit siap kirim ke lokasi proyek Anda.

  • ⚡ Respon Cepat
  • 📋 Hitung Kebutuhan Set
  • 🚚 Informasi Pengiriman

Sumber Referensi 

  1. Nirmalawati, A. Dolu, I. Fadliah, & D.W. Alit, “Analisis Investasi Jasa Penyewaan Perancah (Scaffolding) di Kota Palu. Studi menggunakan NPV, EAV, IRR, dan Discounted Payback Period untuk mengevaluasi investasi usaha rental scaffolding. 
  2. Ummah, Handayani, & Lapaega, “Analisis Perbandingan Biaya dan Waktu Penggunaan Scaffolding…” menunjukkan bahwa keputusan scaffolding perlu melihat biaya sekaligus waktu penggunaan. 
  3. Halperin & McCann, “An Evaluation of Scaffold Safety at Construction Sites,” Journal of Safety Research. Penelitian menekankan pentingnya inspeksi dan evaluasi kondisi scaffolding. (ScienceDirect)
Share the Post: