Proyek hotel punya satu karakteristik yang membuat kebutuhan scaffolding-nya cukup unik:
pekerjaannya tidak berhenti pada satu jenis aktivitas.
Saat pembangunan, kontraktor bisa membutuhkan akses untuk pekerjaan struktur dan dinding.
Setelah itu bergeser ke plafon, pengecatan, fasad, instalasi, dan finishing.
Ketika hotel sudah beroperasi, kebutuhan scaffolding bisa muncul lagi untuk maintenance atau renovasi.
Artinya, scaffolding yang dibutuhkan untuk proyek hotel bukan hanya soal:
“Berapa set yang harus disiapkan?”
Tetapi lebih dulu:
“Pekerjaan apa yang dilakukan, di area mana, pada tahap proyek yang mana, dan seperti apa akses kerja yang dibutuhkan?”
Sobat Konstruksi, cara berpikir seperti ini penting karena satu hotel dapat memiliki banyak area dengan karakter pekerjaan yang berbeda.
Lobby tidak sama dengan kamar.
Fasad tidak sama dengan koridor.
Area ballroom tidak sama dengan rooftop.
Dan pekerjaan pembangunan hotel baru tentu berbeda dengan renovasi hotel yang tetap menerima tamu.
Kenapa Proyek Hotel Membutuhkan Scaffolding?
Bayangkan sebuah hotel sedang direnovasi.
- Di lantai satu, kontraktor sedang memperbaiki plafon lobby.
- Di lantai tiga, ada pekerjaan pengecatan koridor.
- Di sisi luar bangunan, kontraktor facade sedang melakukan perbaikan.
- Sementara di area lain, terdapat pekerjaan instalasi MEP.
Semua pekerjaan membutuhkan akses pada ketinggian, tetapi kebutuhan aksesnya tidak sama.
Scaffolding menjadi salah satu solusi yang dapat digunakan untuk menyediakan temporary elevated work platform bagi pekerja pada area yang sulit dijangkau dari lantai.
OSHA mendefinisikan scaffold sebagai struktur yang didirikan untuk mendukung satu atau lebih platform pada ketinggian tertentu, dan persyaratannya mencakup kapasitas, platform, akses, fondasi, stabilitas, serta perlindungan pekerja.
Dalam proyek hotel, hal ini menjadi semakin penting karena temporary works seperti scaffolding dapat mempengaruhi keselamatan, produktivitas, biaya, jadwal, dan metode pelaksanaan proyek. Penelitian terbaru tentang temporary works juga menunjukkan bahwa scaffolding sering menjadi bagian yang kurang diperhatikan pada tahap perencanaan, padahal memiliki pengaruh terhadap berbagai keputusan proyek.
Tahap Proyek Hotel Menentukan Kebutuhan Scaffolding
Salah satu kesalahan dalam merencanakan scaffolding adalah menganggap kebutuhan akses akan sama dari awal sampai akhir proyek.
Padahal, kebutuhan berubah mengikuti tahapan pekerjaan.
Secara sederhana, proyek hotel bisa memiliki beberapa fase:
Konstruksi → finishing → commissioning → operasi → maintenance/renovasi
Masing-masing dapat membutuhkan akses yang berbeda.
1. Scaffolding untuk Pembangunan Hotel
Pada tahap konstruksi, scaffolding dapat digunakan untuk berbagai pekerjaan pada ketinggian.
Misalnya:
- pekerjaan dinding;
- plesteran;
- acian;
- pengecatan;
- pekerjaan fasad;
- instalasi tertentu;
- pekerjaan finishing.
Contohnya, ketika kontraktor mengerjakan dinding lantai atas.
Pekerja bukan hanya membutuhkan akses untuk mencapai lantai tersebut.
Mereka membutuhkan platform untuk berdiri, bergerak, membawa peralatan, dan mengerjakan bidang dinding.
Inilah fungsi scaffolding sebagai akses kerja.
Penelitian mengenai sistem scaffolding juga menunjukkan bahwa temporary facilities seperti scaffolding dapat berpengaruh terhadap keselamatan dan produktivitas konstruksi, sehingga perencanaannya sebaiknya dilakukan sejak awal.
2. Scaffolding untuk Fasad Hotel
Fasad merupakan salah satu area yang sering membutuhkan akses kerja dari luar bangunan.
Pekerja mungkin melakukan:
- pemasangan fasad;
- pengecatan;
- perbaikan cladding;
- pemasangan kaca;
- pembersihan atau maintenance;
- renovasi tampak luar bangunan.
Untuk bangunan bertingkat, kebutuhan scaffolding fasad perlu memperhatikan lebih dari sekadar tinggi.
Ada faktor:
- panjang bidang fasad;
- bentuk bangunan;
- bukaan;
- balkon;
- perubahan bidang;
- kondisi tanah;
- sistem stabilisasi;
- beban angin;
- area sekitar bangunan.
Ini bukan persoalan kecil.
Sebuah penelitian terhadap 61 struktur scaffolding fasad menemukan bahwa respons scaffolding terhadap beban angin dapat berbeda antara perhitungan standar dan kondisi pengukuran lapangan, bahkan pada beberapa kasus ditemukan kondisi yang menyebabkan scaffolding terlepas atau mengalami twisting.
Karena itu, scaffolding fasad hotel perlu direncanakan berdasarkan kondisi aktual bangunan dan metode kerja.
Scaffolding untuk Pemasangan Kaca Fasad Gedung
Bagaimana menentukan akses kerja untuk pemasangan kaca fasad gedung? Pelajari hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan scaffolding untuk pekerjaan di area bangunan tinggi.
Baca Artikel Lengkap3. Scaffolding untuk Plafon Lobby, Ballroom, dan Area Tinggi
Hotel memiliki banyak area dengan ceiling height yang tidak selalu sama.
Contohnya:
- lobby;
- ballroom;
- meeting room;
- restoran;
- atrium;
- void;
- area entrance.
Bayangkan ballroom dengan plafon setinggi 7 meter.
Pekerja harus memasang atau memperbaiki plafon.
Menggunakan tangga mungkin bisa menjangkau beberapa titik.
Tetapi ketika pekerjaan harus dilakukan sepanjang area yang luas, masalahnya berubah.
Pekerja membutuhkan:
akses + platform + mobilitas.
Dalam kondisi seperti ini, scaffolding dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyediakan area kerja pada elevasi tertentu.
Untuk renovasi, kebutuhan seperti ini bahkan ditemukan pada proyek nyata berupa pekerjaan plafon tinggi, termasuk pembongkaran plafon dan pekerjaan MEP di area indoor.
Scaffolding untuk Maintenance Atap Gudang
Pekerjaan maintenance atap gudang membutuhkan perencanaan akses yang sesuai dengan kondisi bangunan dan area kerja. Kenali faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menentukan kebutuhan scaffolding untuk proyek Anda.
Baca Artikel Lengkap4. Scaffolding untuk Pengecatan Hotel
Pengecatan hotel bisa berarti banyak hal.
Bisa berupa:
- kamar;
- koridor;
- lobby;
- tangga;
- area ballroom;
- fasad;
- struktur luar.
Kebutuhannya tentu tidak sama.
Misalnya pengecatan kamar dengan ceiling standar mungkin tidak membutuhkan sistem yang sama dengan pengecatan atrium hotel.
Begitu juga pengecatan fasad lantai 10.
Karena itu, jangan memilih scaffolding berdasarkan nama pekerjaan saja.
Lihat area kerjanya.
Pertanyaan yang lebih tepat:
- Seberapa tinggi?
- Seberapa luas?
- Berapa lama?
- Apakah pekerja perlu berpindah?
- Apakah membutuhkan platform?
- Apakah area tersebut tetap digunakan oleh tamu?
Jawaban dari pertanyaan tersebut membantu menentukan metode akses yang lebih sesuai.
Scaffolding untuk Pengecatan Gedung
Pengecatan gedung membutuhkan akses kerja yang disesuaikan dengan ketinggian, kondisi fasad, dan ruang gerak pekerja. Pelajari hal-hal yang perlu dipertimbangkan saat merencanakan scaffolding untuk pekerjaan pengecatan.
Baca Artikel Lengkap5. Scaffolding untuk Renovasi Hotel
Ini menjadi lebih menarik karena renovasi hotel memiliki tantangan tambahan.
Hotel yang sedang direnovasi belum tentu kosong.
Bisa saja:
- sebagian kamar tetap beroperasi;
- lobby tetap digunakan;
- restoran tetap buka;
- akses tamu masih berjalan;
- kendaraan tetap masuk;
- pekerjaan dilakukan secara bertahap.
Artinya, kontraktor tidak hanya memikirkan:
“Bagaimana pekerja bisa bekerja?”
Tetapi juga:
“Bagaimana pekerjaan berlangsung tanpa mengganggu area hotel yang masih beroperasi?”
Scaffolding kemudian menjadi bagian dari perencanaan area kerja, bukan sekadar peralatan.
Penelitian mengenai renovasi bangunan menunjukkan bahwa penggunaan scaffolding pada pekerjaan façade dapat memberikan dampak terhadap penghuni, lalu lintas sekitar, biaya, dan durasi proyek.
Untuk hotel, pertimbangan tersebut menjadi semakin relevan karena aktivitas tamu tetap berlangsung.
Bagaimana Menentukan Kebutuhan Scaffolding Proyek Hotel?
Mulailah dari jenis pekerjaan, bukan dari jumlah scaffolding.
Langkah 1: Petakan Area Pekerjaan
Buat daftar area yang membutuhkan akses.
Area Gedung yang Membutuhkan Akses Kerja
Setiap area memiliki kondisi dan kebutuhan akses yang berbeda. Kenali area pekerjaan sebelum menentukan metode akses scaffolding.
Fasad
Pengecatan, pembersihan, dan perawatan dinding luar.
Lobby
Perawatan plafon tinggi, lampu, dan elemen interior.
Ballroom
Pekerjaan di area luas dengan plafon atau struktur tinggi.
Kamar
Pemeliharaan plafon, dinding, dan instalasi interior.
Koridor
Area memanjang dengan ruang gerak dan akses terbatas.
Tangga
Pemeliharaan area tangga, dinding tinggi, dan plafon.
Restoran
Pekerjaan pada plafon, dekorasi, dan instalasi interior.
Rooftop
Perawatan atap, area terbuka, dan elemen bangunan.
Area Service
Perawatan area utilitas dan fasilitas pendukung gedung.
Catatan: Pemilihan akses kerja perlu disesuaikan dengan kondisi lokasi, ketinggian, ruang kerja, dan kebutuhan proyek.
Kemudian kelompokkan berdasarkan ketinggian dan jenis pekerjaan.
Langkah 2: Tentukan Tinggi Area Kerja
Berapa elevasi tertinggi yang harus dijangkau?
Setiap Area Memiliki Kebutuhan Akses Berbeda
Perhatikan contoh tinggi area berikut sebagai gambaran awal dalam mengidentifikasi kebutuhan akses kerja.
Koridor
Area memanjang dengan ruang gerak yang perlu diperhatikan.
Lobby
Area penerima tamu dengan potensi plafon tinggi.
Fasad
Pekerjaan eksterior yang memerlukan evaluasi akses dan kondisi lokasi.
Ballroom
Area luas yang perlu mempertimbangkan tinggi dan ruang kerja.
Catatan: Angka di atas merupakan contoh tinggi area, bukan rekomendasi tinggi atau konfigurasi scaffolding. Penentuan akses kerja perlu mempertimbangkan kondisi aktual dan persyaratan keselamatan proyek.
Angka tersebut membantu menentukan kebutuhan akses.
Tetapi jangan berhenti di tinggi.
Langkah 3: Hitung Luas dan Panjang Area
Tinggi Sama, Kebutuhan Scaffolding Bisa Berbeda
Bayangkan dua pekerjaan pengecatan dengan tinggi area yang sama, tetapi panjang area yang harus dijangkau berbeda jauh.
Pengecatan Dinding
Area pengecatan relatif pendek. Kebutuhan akses ditentukan berdasarkan kondisi lokasi dan ruang kerja yang tersedia.
Pengecatan Fasad
Area pengecatan jauh lebih panjang. Cakupan pekerjaan, konfigurasi akses, dan durasi perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Apa yang perlu diperhatikan?
Tinggi yang sama tidak otomatis menghasilkan kebutuhan scaffolding yang sama. Panjang atau luas area, jumlah level kerja, durasi, kondisi lokasi, dan konfigurasi juga perlu diperhitungkan.
Kerangka pertimbangan awal, bukan rumus harga atau perhitungan teknis baku.
Bukan berarti formula tersebut otomatis menghasilkan quantity final, tetapi dapat menjadi dasar awal untuk berdiskusi dengan supplier.
Langkah 4: Perhatikan Bentuk Bangunan
Hotel modern sering memiliki bentuk fasad yang kompleks.
Ada:
- balkon;
- kanopi;
- podium;
- tower;
- setback;
- area menjorok;
- kaca;
- struktur dekoratif.
Bentuk tersebut dapat memengaruhi konfigurasi scaffolding.
Sebuah penelitian tentang façade scaffolding menemukan bahwa ketidaksempurnaan geometris dapat meningkatkan gaya internal pada elemen scaffolding, terutama pada elemen tertentu seperti frame dan bracing.
Artinya, bentuk dan konfigurasi bukan hanya masalah estetika.
Ia juga berhubungan dengan performa sistem.
Langkah 5: Perhatikan Kondisi Sekitar
Untuk hotel baru, area sekitar mungkin masih berupa construction zone.
Tetapi untuk renovasi hotel, area tersebut bisa penuh aktivitas.
Misalnya:
- kendaraan tamu;
- valet;
- pedestrian;
- loading area;
- restoran;
- pintu masuk;
- area service;
- jalur evakuasi.
Scaffolding tidak boleh direncanakan tanpa melihat aktivitas tersebut.
Dalam konteks Indonesia, Permen PUPR No. 10 Tahun 2021 menjadi salah satu rujukan resmi terkait Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK). Peraturan ini berstatus berlaku dan menggantikan Permen PUPR No. 21/PRT/M/2019.
Kementerian PUPR juga menjelaskan bahwa pekerjaan yang menggunakan perancah dan pekerjaan pada ketinggian termasuk pekerjaan yang memerlukan perhatian dalam analisis keselamatan konstruksi.
Bagaimana dengan Hotel yang Tetap Beroperasi?
Ini salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian khusus.
Misalnya hotel hanya merenovasi lantai 5–7.
Lantai 1–4 tetap digunakan oleh tamu.
Maka kontraktor harus memikirkan:
- area kerja;
- jalur material;
- debu;
- suara;
- akses pekerja;
- pemisahan area;
- jam kerja;
- keamanan tamu;
- perlindungan benda jatuh.
Scaffolding dapat menjadi bagian dari pembatasan dan pengaturan area kerja, tetapi bukan satu-satunya sistem keselamatan.
Area hotel yang aktif tetap membutuhkan pengelolaan risiko secara menyeluruh.
Apakah Semua Pekerjaan Hotel Membutuhkan Scaffolding?
Tidak.
Ini penting. Untuk pekerjaan pada ketinggian tertentu, pilihan akses bisa berupa:
- scaffolding;
- mobile scaffold;
- aerial lift;
- platform kerja;
- tangga untuk kondisi tertentu;
- sistem akses lainnya.
Pilihan tergantung:
- tinggi;
- luas area;
- durasi;
- mobilitas;
- kondisi lantai;
- bentuk ruang;
- kebutuhan material;
- risiko pekerjaan.
Karena itu, scaffolding sebaiknya dipilih ketika memang memberikan akses kerja yang lebih sesuai terhadap metode pekerjaan.
Bukan karena “proyek hotel biasanya pakai scaffolding”.
Beli atau Sewa Scaffolding untuk Proyek Hotel?
Ini pertanyaan yang sering muncul pada tahap procurement.
Jawabannya bergantung pada karakter proyek.
Sewa dapat dipertimbangkan jika:
- proyek bersifat sementara;
- durasi penggunaan relatif pendek;
- scaffolding hanya dibutuhkan pada fase tertentu;
- kontraktor tidak ingin menyimpan aset setelah proyek selesai.
Beli dapat dipertimbangkan jika:
- kontraktor memiliki banyak proyek;
- scaffolding akan digunakan kembali;
- kebutuhan akses terjadi berulang;
- biaya kepemilikan jangka panjang lebih masuk akal.
Namun jangan membandingkan hanya:
harga beli vs harga sewa.
Pertimbangkan juga:
- mobilisasi;
- demobilisasi;
- penyimpanan;
- maintenance;
- utilisasi;
- umur pakai;
- kebutuhan proyek berikutnya.
Karena keputusan procurement yang baik melihat total cost, bukan harga unit saja.
Contoh Sederhana Kebutuhan Scaffolding Hotel
Empat Zona Pekerjaan, Empat Kebutuhan Akses
Dalam satu proyek renovasi hotel, tinggi pekerjaan, bentuk area, dan ruang gerak dapat berbeda. Karena itu, setiap zona perlu dievaluasi sesuai kondisi pekerjaannya.
Lobby
Pengecatan dinding
Platform indoor, ruang gerak, dan perlindungan area interior.
Ballroom
Perbaikan plafon
Cakupan plafon, bentang area, dan kebutuhan akses di atas.
Fasad
Perbaikan cladding
Akses vertikal dari luar, kondisi tanah, dan ruang sekitar bangunan.
Koridor
Pengecatan dinding beberapa lantai
Lebar koridor, mobilitas peralatan, dan perpindahan antarzona.
Jangan langsung bertanya, “Berapa set scaffolding untuk hotel?”
Mulailah dengan pertanyaan: “Berapa kebutuhan akses untuk masing-masing zona pekerjaan?” Dari pembagian zona tersebut, kebutuhan quantity dapat dievaluasi berdasarkan kondisi aktual proyek.
Ilustrasi bersifat konseptual. Kebutuhan akses dan konfigurasi scaffolding perlu ditentukan melalui evaluasi lokasi serta persyaratan keselamatan kerja.
Butuh Scaffolding untuk Proyek Hotel atau Villa?
Jika Sobat Konstruksi sedang menangani pembangunan, renovasi, atau maintenance hotel/villa, siapkan informasi area pekerjaan, tinggi, layout, jenis pekerjaan, serta durasi penggunaan.
SKJ Scaffolding dapat membantu kebutuhan pengadaan scaffolding untuk berbagai pekerjaan konstruksi, renovasi, dan maintenance.
Hubungi SKJ Scaffolding untuk mendiskusikan kebutuhan scaffolding berdasarkan kondisi proyek Anda.
Butuh scaffolding untuk proyek Anda?
Setiap proyek memiliki kebutuhan akses yang berbeda. Konsultasikan jenis pekerjaan, ketinggian area, kondisi lokasi, dan durasi proyek bersama tim SKJ Scaffolding.
Diskusikan kebutuhan pekerjaan
Evaluasi kondisi dan area proyek
Bahas kebutuhan akses scaffolding
Sumber Referensi
- Kementerian PUPR – Permen PUPR No. 10 Tahun 2021 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi. Merupakan rujukan resmi Indonesia terkait SMKK dan berstatus berlaku.
- Kementerian PUPR – Analisis Keselamatan Konstruksi. Kementerian PUPR menjelaskan pekerjaan pada ketinggian dan pekerjaan yang menggunakan perancah sebagai pekerjaan yang perlu diperhatikan dalam analisis keselamatan konstruksi.
- Kim & Teizer – Automatic design and planning of scaffolding systems using building information modeling. Advanced Engineering Informatics. Studi ini membahas dampak temporary facilities terhadap keselamatan dan produktivitas konstruksi serta penggunaan BIM untuk perencanaan scaffolding.
- Lipecki, Jamińska-Gadomska & Błazik-Borowa – Wind load on façade scaffolding without protective cover. Journal of Building Engineering. Penelitian terhadap 61 struktur scaffolding fasad menunjukkan pentingnya mempertimbangkan respons scaffolding terhadap beban angin dan kondisi aktual lapangan.
- Tovarović, Ivanović-Šekularac & Šekularac – Renovation of existing glass facade in order to implement energy efficiency and media facade. Energy and Buildings. Studi kasus renovasi fasad Hotel Slavija menunjukkan bahwa renovasi fasad dapat menjadi bagian penting dari transformasi dan peningkatan performa bangunan.
- Advanced risk management strategies for safety enhancement in temporary building construction works. Studi ini membahas temporary works seperti scaffolding sebagai bagian yang berpengaruh terhadap risk assessment, cost management, scheduling, dan construction methods.


